Wednesday, July 11, 2018

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Rommy: Cawapresnya Jokowi Harus yang 'Soulmate'

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA –  Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan M. Romahurmuziy mengakui tidak bisa membuka identitas 10 nama yang berpotensi menjadi calon wakil presiden bagi Jokowi. Namun, dia membuka soal kronologi dan dasar pengambilan keputusan.
Rommy mengawalinya dengan menuturkan sejumlah premis ketidakmungkinan. Pertama, Jokowi tidak mungkin mengambil cawapres yang tidak dikenalnya.
Kedua, tidak mungkin mengajak cawapres yang tidak pernah ada hubungan kerja dengannya, baik hubungan formal sebagai atasan-bawahan atau informal sebagai kolega. Ketiga, tidak mungkin Jokowi mengambil cawapres yang dalam hubungan kerja selama ini pernah mengecewakan atau di bawah standar.
Dan keempat, tidak mungkin yang diambil adalah cawapres yang tidak bisa diterima oleh seluruh parpol pengusungnya.
"Sekarang, bagaimana dengan kemungkinan? Yang pasti pak @jokowi akan menjaga narasi besar NKRI dalam figur capres dan cawapres. Kedua, pak @jokowi pasti mengambil cawapres yang seirama kerja dengan beliau. Karena wapres adalah soulmate, dwitunggal pemimpin bangsa," kata Rommy lewat akun Instagramnya, @romahurmuziy, dikutip VIVA, Rabu, 11 Juli 2018.
Rommy menyampaikan 10 nama bakal cawapres atau kurang itu ada yang merupakan pimpinan parpol, akademisi-cendekiawan-ulama, teknokrat dan profesional. Maka salah satunya tentu adalah di antara cendekiawan Islam puncak yang sudah sangat dikenal bangsa Indonesia.
"KH. Ma'ruf Amin menjadi salah satu alternatif yang menjembatani seluruh interest group," lanjut dia.
Beberapa alasannya, pertama, Ma'ruf adalah pemimpin tertinggi ormas Islam moderat terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama karena dia menjabat sebaga Rais 'Aam. Rais 'Aam itu, lanjut Rommy, lengkapnya Rais 'Aamin, makna harfiahnya Ketua Umum.
Kedua, KH Ma'ruf Amin adalah figur yang dihormati seluruh ormas Islam karena posisinya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Bahkan ketika KH Ma'ruf Amin di-bully beberapa waktu lalu karena menengahi persoalan yang menimpa Sukmawati, Habib Riziq sampai turun tangan meminta agar hal tersebut tidak diteruskan," tutur Rommy.
Ketiga, KH Ma'ruf Amin relatif disegani oleh komponen 212. "Pendeknya, fatwa MUI saja dikawal oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-MUI, apalagi muftinya. Mufti artinya orang yang membuat fatwa. Tanpa meniadakan peran ulama lain, MUI-lah yang mensolidkan gerakan umat Islam saat itu," kata Rommy lagi.
Keempat, KH Ma'ruf Amin adalah juga seorang yang paham ekonomi. Dia anggota Dewan Ekonomi Syariah.
"Seluruh gerakan politik Islam yang pro ekonomi syariah niscaya akan menjadi strong supporter bagi beliau," kata dia.
Kelima, KH Ma'ruf Amin adalah politisi yang ulama dan ulama yang politisi. Pribadinya bersahaja, faqih (ahli agama), pernah menjadi anggota DPRD dan DPR, serta keturunan Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama besar yang menjadi guru kiai-kiai besar nusantara.
Keenam, tambah Rommy, sebagai figur yang sangat kental warna 'hijau'nya, KH Ma'ruf Amin akan melengkapi postur Jokowi yang selama ini selalu dinarasikan oleh lawan politik sebagai figur yang defisit di aspek religiusitas. (ren)
Sumber: Viva
Akb – rifanfinancindo

Tuesday, July 10, 2018

Bakal Hadir Pesaing NMAX dan PCX, Lebih Canggih

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Tidak hanya di Indonesia, produk skuter matik berdesain bongsor seperti Yamaha NMAX dan Honda PCX juga digemari di pasar luar negeri. Alasannya sederhana, bentuk menarik dan mudah dikendarai.
Melihat hal tersebut, produsen motor lainnya tentu tidak mau tinggal diam. Salah satunya TVS, pabrikan motor asal India.
Dilansir dari Bikewale, Selasa 10 Juli 2018, perusahaan yang bekerja sama dengan BMW membuat G 310 R itu dikabarkan tengah menyiapkan skuter matik 150 cc. Basisnya diambil dari motor konsep Entorq 210.
Secara desain, motor yang belum diberi nama itu tidak berbeda dari kompetitornya. Besar di bagian depan dan belakang, serta pijakan kaki panjang di sisinya.
Tentu TVS perlu hal lain untuk bisa bersaing dengan pabrikan motor asal Jepang, bukan hanya soal harga. Oleh sebab itu, mereka membekali motor baru tersebut dengan beragam fitur canggih.
Contohnya keyless starter dan pegangan khusus untuk menempatkan smartphone. Bahkan, pengendara bisa menghubungkan gawai mereka ke panel instrumen motor melalui jaringan Bluetooth.
Panel yang seluruh bagiannya merupakan layar sentuh itu memiliki beberapa menu, salah satunya navigasi. Mengandalkan koneksi internet dari smartphone, pengendara bisa melihat peta dan mencari jalan melalui panel tersebut.
Belum disebutkan berapa banderolnya, namun motor diperkirakan akan resmi meluncur untuk pasar global pada 2019.
Sumber: Viva
Akb – rifanfinancindo

Monday, July 9, 2018

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Sindiran Amien Rais untuk TGB, Ada Tokoh Keluar Jalan Allah


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Amien Rais menyindir sikap Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, yang mendukung Joko Widodo untuk meneruskan jabatannya sebagai Presiden RI hingga dua periode.
Sindiran itu diungkapkan Amien Rais dalam rekaman video berdurasi kurang dari satu menit di akun Instagram resminya, Minggu, 8 Juli 2018.
Dalam rekaman video itu, menurut Amien Rais, sikap TGB yang tiba-tiba menyatakan mendukung Jokowi, cukup membingungkan. Sebab, Amien mengklaim, posisi yang selama ini ditempati TGB merupakan jalan yang benar sesuai hidayah Allah.
Menurut Amien Rais, tak ada cara lain untuk mengembalikan TGB ke posisi yang dianggap Amien benar, selain mendoakan TGB kembali. Dan Amien Rais mengajak orang-orang yang sepaham dan satu posisi dengannya untuk tetap bertahan dan tak meniru TGB.
Berikut kutipan sindiran Amien Rais:
"Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Saudara-saudaraku, akhir-akhir ini, kita melihat sebagian umat, bahkan sebagian tokoh, membingungkan kita, karena berpindah posisi, dari posisi yang kita anggap sudah benar, sesuai dengan hidayah Allah, tiba-tiba pindah ke posisi lain yang membuat kita agak bertanya-tanya.
Nah untuk mereka, kita doakan mudah-mudahan mereka kembali ke jalan hidayah, jalan yang dibimbing oleh Allah. Sementara kita sendiri, kita bentengi agar kita tidak ikut-ikutan, dengan doa ayat 8 surat Ali ‘Imran."
Seperti diketahui, selama ini Amien Rais memiliki kedekatan khusus dengan sejumlah tokoh dan ulama, termasuk TGB. Terutama usai turun bareng mendemo mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang tersandung perkara penistaan agama.
Dan, Amien Rais merasa TGB merupakan orang yang berada dalam satu kubu dengan dirinya. Apalagi Amien Rais sedang bercita-cita ikut dalam Pilpres 2019.
Sebelumnya TGB sudah mengeluarkan pernyataan pribadi terkait pernyataannya mendukung Jokowi di Pemilihan Presiden 2019.
Pernyataan itu disampaikan TGB melalui rekaman video di akun Instgramnya. TGB mengatakan, sikapnya ini merupakan keputusan terbaik untuk mempersatukan bangsa dalam satu persaudaraan.
Berikut kutipan pernyataan TGB:
"Apa aset kita yang tidak terlihat sebagai bangsa? Aset yang tidak terlihat itu adalah persaudaraan dan persatuan kita sebagai bangsa. Kita ini bersaudara. Apakah bapak-bapak berani mengatakan bahwa anda adalah yang haq, sementara lawan politik adalah yang bathil seperti kafir Quraisy? Siapa yang berani? Kalau saya tidak berani. . .
Siapapun yang mendengar ucapan saya ini, tokoh-tokoh, guru-guru yang saya muliakan. Tolong berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat perang dalam Al-Qur’an. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan. . .”
Sumber: Viva
Akb – rifanfinancindo

Friday, June 29, 2018

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Menebak Peta Koalisi Pilpres 2019 Usai Pilkada

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Hitung cepat atau quick count terkait hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang digelar sejumlah lembaga survei dinilai berpengaruh terhadap poros koalisi untuk Pemilihan Presiden 2019. Meski hitungan resmi Komisi Pemilihan Umum belum diumumkan, namun hasil quick count dinilai jadi gambaran dinamika politik menjelang Pilpres 2019.
Arah koalisi untuk Pilpres 2019 diprediksi masih bisa berubah sebelum pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden pada 4-10 Agustus 2018. Kurang dari 40 hari, partai-partai dinilai akan semakin intens dalam penjajakan koalisi.
Merujuk hasil quick count, terdapat kejutan di beberapa daerah yang menggelar Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. PDI Perjuangan sebagai partai pemenang Pemilu 2014 pun belum punya hasil menggembirakan.
Duet jagoan yang diusung partai berlambang banteng moncong putih itu banyak yang kalah. Ambil contoh pasangan calon yang diusung PDIP di Pilgub Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, serta Jawa Timur tumbang dari rivalnya.
Kemudian, di sisi lain, partai yang selama ini di barisan oposisi dan kritis terhadap pemerintahan Joko Widodo juga senasib. Pasangan yang diusung koalisi Gerindra dan PKS keok. Bahkan, di Pulau Jawa minus DKI Jakarta, duet jagoan Gerindra-PKS seluruhnya tumbang.
Melihat dinamika ini, Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengatakan hasil Pilkada 2018 akan berpengaruh terhadap arah koalisi Pilpres 2019. Bagi dia, penjajakan poros koalisi akan makin menguat pasca-6Pilkada 2018. Saat ini, status PAN masih sebagai salah satu partai belum memutuskan dukungan arah koalisi.
"Hasil jelas berpengaruh, tentu berpengaruh. Nah, sekarang kembali lagi dalam kombinasi capresnya kayak apa dan partai pendukungnya seperti apa?" ujar Zulkifli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018.
Zulkifli merespons hasil quick count Pilkada 2018 memperlihatkan perebutan basis dukungan menuju 2019. Ia menganalisis contoh seperti persaingan di Pilgub Jateng dengan kandidat yaitu Ganjar Pranowo melawan Sudirman Said. Ganjar merupakan jagoan PDIP yang mendukung Joko Widodo maju lagi sebagai capres 2019.
"Misalnya siapa yang ngira Sudirman Said baru 3 bulan, enggak punya uang, enggak punya logistik. Ganjar kerja hampir 5 tahun dan itu basis kuatnya PDIP, tapi (Sudirman) bisa dapat 43 persen, bayangkan," kata Zulkifli.
Respons juga disuarakan elite Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan kubu pendukung Joko Widodo. Sekretaris Jenderal PPP, Arsul Sani menekankan kemenangan Ridwan Kamil di Pilgub Jawa Barat, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, dan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur akan memberikan poin lebih untuk dukungan Jokowi di Pilpres 2019.
"Karena ketiganya, Khofifah, Emil, Ganjar itu pendukung Jokowi," tutur Arsul kepada VIVA, Kamis, 28 Juni 2018.
Arsul mengklaim koalisi pendukung Jokowi saat ini yang sudah terbentuk akan solid dan tak bermasalah. Justru, kata dia, jumlah pendukung koalisi diklaim akan bertambah seiring sisa waktu sebelum pendaftaran pasangan capres dan cawapres pada awal Agustus 2018.
"Insya Allah, kami solid, tidak berubah. Tapi, malah bertambah 1-2 partai. Masih ada waktu 2-3 minggu juga untuk merembukkan cawapres untuk Jokowi," sebut Arsul.
Sejauh ini, parpol yang menyatakan mendukung Jokowi di Pilpres 2019 adalah PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, dan Hanura. Ada juga partai nonparlemen seperti PSI, Perindo, dan PKPI.
Sumber: Viva
Akb – rifanfinancindo

Thursday, June 28, 2018

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Banyak Jagoan PDIP Keok di Pilkada, Ini Analisis Penyebabnya

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Meski belum ada pengumuman perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), pilkada serentak 2018 terdapat beberapa hasil mengejutkan. Salah satunya kalahnya sejumlah pasangan calon yang diusung PDI Perjuangan dalam versi hitungan cepat alias quick count.
Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menganalis penyebab banyak keoknya duet jagoan PDIP. Ia mencontohkan kekalahan pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan di Pilgub Jawa Barat. Padahal, PDIP sebagai parpol dengan elektoral kursi terbesar di Jabar, sehingga bisa mengusung pasangan calon tanpa koalisi.
"Kekalahan ini di Jabar karena duet PDIP tak kuat dan tak dekat dengan warga pemilih. Berbeda hasilnya kalau dekat dengan warga seperti di Pilgub Bali, Jateng, PDIP menang," kata Hendri, Rabu, 27 Juni 2018.
Hendri menambahkan, hal serupa juga terjadi di Pilgub Sumatera Utara. Menurutnya, kekalahan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus karena interest eks gubernur DKI itu kurang dikenal warga Sumut. Meski relatif imbang secara kertas dengan duet Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah alias Ijeck, Djarot dinilai masih sulit merangkul warga Sumut.
"Tidak mudah. Faktor kedekatan dengan warga yang memilih jadi utama. PDIP dalam seleksi harus diperkuat," jelas Hendri.
Sementara itu, pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menyoroti kekalahan Karolin Margret-Suryadman Gidot di Pilgub Kalbar. Bagi dia, trah politik dinasti sudah tak menjadi acuan. Karolin merupakan putri dari mantan gubernur Kalbar dua periode, Cornelis.
Masyarakat sebagai pemilih bisa menentukan suaranya tanpa melihat trah calon pemimpin.
"Pemilih sudah cerdas melihat. Politik dinasti bukan jaminan bakal terpilih generasi penerusnya. Lembaga survei sudah analisis kelemahan Karolin," ujar Adi.
Kemudian, Adi juga melihat kekalahan dalam Pilgub Jatim yang dialami pasangan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul-Puti Guntur. Duet ini memiliki kelemahan dalam figur Puti yang terkesan cenderung memaksakan. Puti yang merupakan mantan anggota DPR ini dinilai belum mengakar di Jatim.
"Mungkin berbeda dengan Abdullah Azwar Anas yang sebelumnya menyatakan mundur. Puti ini kan dari Jabar terus ke Jatim. Belum bisa imbangi Gus Ipul," tutur Adi.
Sumber: Viva
Akb – rifanfinancindo